Namun peneliti universitas itu,
Yoshihiro Kawaoka justru merekayasa virus. Sebab hasil rekayasa virus
cukup mengkhawatirkan. Kawaoka menemukan virus itu bisa melarikan diri
dan menetralkan antibodi manusia. Hal ini akan membuat sistem kekebalan
manusia tak akan lagi mampu menahan wabah. Mengancam seluruh umat
manusia yang ada di dunia.
Kawaoka beralasan maksud risetnya itu untuk memantau perubahan
genetik H1N1, terutama pada negara yang belum menjadi pandemi virus
itu.
Peneliti memahami adanya kekhawatiran virus baru itu bakal jadi
ancaman dunia. Tapi peneliti meyakinkan pengembangan virus itu sudah
menjalani serangkaian tahapan yang aman.
Dikatakan pengembangan virus baru dilakukan khusus di ruang
laboratorium Institute for Influenza Virus Research, Madison, AS, yang
telah memenuhi standar tingkat tiga dalam hal keamanan pertanian.
Tingkat keamanan laboratorium itu setingkat di bawah lembaga riset yang melakukan penelitian penyakit mematikan, Ebola.
University of Wisconsin-Madison menegaskan tak perlu khawatir dengan risiko virus bakal menyebar dari laboratorium.
Sebab tingkat keamanan Institute for Influenza Virus Research sama
dengan tingkat keamanan riset virus mematikan Anthrax pada Pusat
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Atlanta.
"Pemilihan virus itu pada laboratorium, berada dalam kondisi
pengurungan yang layak. Kami mampu mengidentifikasi wilayah-wilayah
kunci, yang akan memungkinkan virus H1N1 2009 menyerang kekebalan," ujar
Kawaoka.
Ia berdalih virus yang diisolasi telah teridentifikasi mengalami
perubahan yang sama dalam protein viralnya. Menurutnya hal itu
menunjukkan pelarian virus muncul pada alam. Sedangkan studi
laboratorium, kata Kawaoka, justru memiliki relevansi dengan apa yang
terjadi di alam.









